Total komentar di blog ini 5667 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 42 komentar per artikel.

Benci Hujan, Benci Panas?


Angka seder­hana memang sulit dicerna. Seperti bukan hal yang nyata, saat angka-angka itu ter­pam­pang dalam unta­ian kehidu­pan yang begitu rumit kemu­dian dije­laskan. Banyak sudah yang ter­cipta untuk men­gor­bankan semua sendi-sendi rasa tol­er­ansi. Ada yang men­gang­gap semua hal yang telah diraih begitu suk­ses, ada yang berkata, tidak semua yang telah dim­i­liki­adalah nikmat rasanya. Namun, tidak den­gan Mak Sarip. Tubuh­nya yang telah tua, dit­ing­galkan oleh semua miliknya. Dulu meru­pakan kebang­gaan dan kejayaan. Saat sang suami, Bung Jiprek, begi­t­u­lah orang kam­pungnya memang­gilknya, san­gat dis­egani karena kekayaan yang tek ter­duga dipan­dang mata. Kini, Mak Sarip sendiri, walau harta itu masih men­e­mani, namun tidak den­gan darah dag­ingnya. Seper­tinya, tahun baru kali ini pun ia lewati saja den­gan duduk di depan layar kaca, dan tetap sendiri.

Akhirnya hujan turun den­gan lebat­nya. Seperti keroyokan saja menghu­jam penuh tanah. Hingga bau tanah merekah ke udara. Diantara sayup-sayup kera­ma­ian kam­pung itu, sebelum­nya ada per­ayaan kecil menyam­but tahun baru itu. “Kam­pret!” umpat Mak Sarip begitu kalang kabut men­gangkati jemu­ran­nya. Pada­hal sudah dibantu oleh pem­bantu dan tetang­ganya, “Tadi pagi panas­nya minta ampun, meleleh sudah kulit ini, kini hujan pula, lebat pula, Kam­pret!” Seper­tinya dirinya tetap saja men­geluh atas cuaca yang berubah seke­hen­dak hati Tuhan. “Sudahlah mak, toh jemu­ran sudah kita angkat, sekarang Mak isti­ra­hat dulu.” Kata seo­rang pem­ban­tunya yang bernama Minah. “Nah, buatkan saya sege­las teh hangat, sedikit gulanya, ingat, sedikit saja!” suruh Mak Sarip yang mirip den­gan ben­takan itu. Mak Sarip pun meminum tehnya, dikala hujan lebat meng­guyur perkam­pun­gan itu, ia tetap menatap penuh hampa lagit hitam dan kelam. Mela­mun jauh akan ingatan yang tak lagi bersi­nar. Sudah lalu, dan sudah masa lalu.

Kang, Mas, eh, dipang­gilin dari tadi kok gak noleh to?” sahut Angga kepada kakanya Rudy. “Oh, apa dek? kok buru-buru begitu?” “Mas, kau lupa yah? sekarang kita dapat cuti libur kerja sam­pai 3 hari sete­lah tahun baru, tak ter­pikirkah olehmu untuk pulang walaupun seje­nak Mas? Kita jen­guk Ibu­lah, sudah berapa tahun ini kita tidak pulang.” rudy hanya ter­diam, dan kemu­dian bert­e­duh dis­aat hujan meng­han­tam tubuh­nya dan adiknya. “Oh, aku masih kalut dek, sama sikap Ibu dulu. Lupa kau bahwa Ibu telah men­gusirku dulu, hanya karena kami berselisih pen­da­pat ten­tang cita-citaku?” “Aku mengerti kak, tapi tak bolehlah begini terus. aku mengiku­timu kan karena suruhan Ibu, agar dia dapat memas­tikan kau tidak men­galami masalah di Kota besar.” Kemu­dian sebuah mobil merepet mereka, dan meng­in­jak kuban­gan didekat mereka yang berisi tam­pun­gan air hujan, dan Splash! “HOI! Liat-liat dong kalau bawa mobil. Basah neh. Gara-gara hujan, begini deh jadinya. Dek, aku tetap belum ingin mau pulang ke rumah, jika kau ingin pulang, pulanglah.”

Kak, kem­ana lagi kau? Masih hujan begini, tung­gu­lah seben­tar,” “Tang­gung dek, ke kon­trakan saja sudah, sudah basah pula kita.” Mereka pun berlari menuju bus kota yang men­gan­tar mereka pulang. Dalam per­jalanan, Rudy tetap teringat uca­pan dan ajakan adek semata wayangnya itu. Yah, sudah ham­pir 3 tahun dirinya tidak pulang kerumah. Rasa sesal akan sikap Ibunya yang keras kepala tak urung mem­bu­at­nya eng­gan untuk pulang. Pulang? Dirinya hanya akan men­jadi cemoohan Ibunya jika hal itu ter­jadi, dan itu­lah yang berada dipiki­ran­nya. Sekarang dirinya men­jadi seo­rang pekerja kan­toran. Ibunya dulu menyu­ruh­nya melan­jutkan usaha bapaknya seba­gai jura­gan Sapi, den­gan keras meno­lak anaknya yang ingin pergi ke Kota. Yah, perselisi­han yang belum berakhir sekarang. Kemu­dian, belum sam­pai kon­trakan mereka, hujan telah reda. “Kam­pret! Reda lagi, kirain bakal lama nih hujan. Haduh, gagal semua ren­cana hari ini.” “Sudahlah kak, tak perlu men­gomel terus, syukuri saja, panas dan hujan kan nikmat Tuhan. Sudahlah men­gomel­nya.” Mereka pun tiba di kontrakan.

Nyonya, kok mela­mun? Gak baik Nya mela­mun diluar, din­gin, sekarang kan hujan, nanti masuk angin. Saya antar Nyonya ke dalam.” pinta Minah kepada sang majikan, Mak Sarip. Tek berapa lama, Mak Sarip ter­henyak dari lamu­nan­nya. Dan akhirnya kem­bali mengumpat, “Kam­pret! Kenapa lagi ini, hujan berhenti, panas lagi. Bah, bikin susah orang saja!” Yah, hujan pun berhenti saat itu. Semua ren­cana Mak Sarip pun gagal, teh hangat­nya pun­tak habis diminum­nya, “Nya, jan­gan men­gomel terus, sudah takdir Tuhan ini, nanti darah tinggi Nyonya naik lagi.” kemu­dian Minah men­gan­tar sang majikan ke dalam rumah. Dan per­seteruan hati antara mereka, Mak Sarip dan anaknya, Rudy, belum berakhir. Hanya ada satu kesamaan dalam keras­nya sikap mereka, yaitu mereka benci panas, dan benci hujan.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

, ,

  1. #1 by Download mp3 on August 28, 2010 - 05:43

    I can see that you are an expert in this area. I am launch­ing a web­site soon, and your infor­ma­tion will be very use­ful for me.. Thanks for all your help and wish­ing you all the suc­cess in your business.

  2. #2 by cool avatars on August 31, 2010 - 19:33

    Adding to my book­marks thanks, a good fast read.

1 ... 3 4 5
(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree