Angka sederhana memang sulit dicerna. Seperti bukan hal yang nyata, saat angka-angka itu terpampang dalam untaian kehidupan yang begitu rumit kemudian dijelaskan. Banyak sudah yang tercipta untuk mengorbankan semua sendi-sendi rasa toleransi. Ada yang menganggap semua hal yang telah diraih begitu sukses, ada yang berkata, tidak semua yang telah dimilikiadalah nikmat rasanya. Namun, tidak dengan Mak Sarip. Tubuhnya yang telah tua, ditinggalkan oleh semua miliknya. Dulu merupakan kebanggaan dan kejayaan. Saat sang suami, Bung Jiprek, begitulah orang kampungnya memanggilknya, sangat disegani karena kekayaan yang tek terduga dipandang mata. Kini, Mak Sarip sendiri, walau harta itu masih menemani, namun tidak dengan darah dagingnya. Sepertinya, tahun baru kali ini pun ia lewati saja dengan duduk di depan layar kaca, dan tetap sendiri.
Akhirnya hujan turun dengan lebatnya. Seperti keroyokan saja menghujam penuh tanah. Hingga bau tanah merekah ke udara. Diantara sayup-sayup keramaian kampung itu, sebelumnya ada perayaan kecil menyambut tahun baru itu. “Kampret!” umpat Mak Sarip begitu kalang kabut mengangkati jemurannya. Padahal sudah dibantu oleh pembantu dan tetangganya, “Tadi pagi panasnya minta ampun, meleleh sudah kulit ini, kini hujan pula, lebat pula, Kampret!” Sepertinya dirinya tetap saja mengeluh atas cuaca yang berubah sekehendak hati Tuhan. “Sudahlah mak, toh jemuran sudah kita angkat, sekarang Mak istirahat dulu.” Kata seorang pembantunya yang bernama Minah. “Nah, buatkan saya segelas teh hangat, sedikit gulanya, ingat, sedikit saja!” suruh Mak Sarip yang mirip dengan bentakan itu. Mak Sarip pun meminum tehnya, dikala hujan lebat mengguyur perkampungan itu, ia tetap menatap penuh hampa lagit hitam dan kelam. Melamun jauh akan ingatan yang tak lagi bersinar. Sudah lalu, dan sudah masa lalu.
“Kang, Mas, eh, dipanggilin dari tadi kok gak noleh to?” sahut Angga kepada kakanya Rudy. “Oh, apa dek? kok buru-buru begitu?” “Mas, kau lupa yah? sekarang kita dapat cuti libur kerja sampai 3 hari setelah tahun baru, tak terpikirkah olehmu untuk pulang walaupun sejenak Mas? Kita jenguk Ibulah, sudah berapa tahun ini kita tidak pulang.” rudy hanya terdiam, dan kemudian berteduh disaat hujan menghantam tubuhnya dan adiknya. “Oh, aku masih kalut dek, sama sikap Ibu dulu. Lupa kau bahwa Ibu telah mengusirku dulu, hanya karena kami berselisih pendapat tentang cita-citaku?” “Aku mengerti kak, tapi tak bolehlah begini terus. aku mengikutimu kan karena suruhan Ibu, agar dia dapat memastikan kau tidak mengalami masalah di Kota besar.” Kemudian sebuah mobil merepet mereka, dan menginjak kubangan didekat mereka yang berisi tampungan air hujan, dan Splash! “HOI! Liat-liat dong kalau bawa mobil. Basah neh. Gara-gara hujan, begini deh jadinya. Dek, aku tetap belum ingin mau pulang ke rumah, jika kau ingin pulang, pulanglah.”
“Kak, kemana lagi kau? Masih hujan begini, tunggulah sebentar,” “Tanggung dek, ke kontrakan saja sudah, sudah basah pula kita.” Mereka pun berlari menuju bus kota yang mengantar mereka pulang. Dalam perjalanan, Rudy tetap teringat ucapan dan ajakan adek semata wayangnya itu. Yah, sudah hampir 3 tahun dirinya tidak pulang kerumah. Rasa sesal akan sikap Ibunya yang keras kepala tak urung membuatnya enggan untuk pulang. Pulang? Dirinya hanya akan menjadi cemoohan Ibunya jika hal itu terjadi, dan itulah yang berada dipikirannya. Sekarang dirinya menjadi seorang pekerja kantoran. Ibunya dulu menyuruhnya melanjutkan usaha bapaknya sebagai juragan Sapi, dengan keras menolak anaknya yang ingin pergi ke Kota. Yah, perselisihan yang belum berakhir sekarang. Kemudian, belum sampai kontrakan mereka, hujan telah reda. “Kampret! Reda lagi, kirain bakal lama nih hujan. Haduh, gagal semua rencana hari ini.” “Sudahlah kak, tak perlu mengomel terus, syukuri saja, panas dan hujan kan nikmat Tuhan. Sudahlah mengomelnya.” Mereka pun tiba di kontrakan.
“Nyonya, kok melamun? Gak baik Nya melamun diluar, dingin, sekarang kan hujan, nanti masuk angin. Saya antar Nyonya ke dalam.” pinta Minah kepada sang majikan, Mak Sarip. Tek berapa lama, Mak Sarip terhenyak dari lamunannya. Dan akhirnya kembali mengumpat, “Kampret! Kenapa lagi ini, hujan berhenti, panas lagi. Bah, bikin susah orang saja!” Yah, hujan pun berhenti saat itu. Semua rencana Mak Sarip pun gagal, teh hangatnya puntak habis diminumnya, “Nya, jangan mengomel terus, sudah takdir Tuhan ini, nanti darah tinggi Nyonya naik lagi.” kemudian Minah mengantar sang majikan ke dalam rumah. Dan perseteruan hati antara mereka, Mak Sarip dan anaknya, Rudy, belum berakhir. Hanya ada satu kesamaan dalam kerasnya sikap mereka, yaitu mereka benci panas, dan benci hujan.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Karpet Terbuat dari 70.000 Bunga? - March 9th, 2010
- Plugins Menarik yang Ku Temui - March 6th, 2010
- Jangan biarkan SEO membunuh Blogmu! - March 3rd, 2010
- Menginstal Wordpress Di Komputermu - February 28th, 2010
- Permintaan Tukeran Link - February 25th, 2010





#1 by ravimalekinth on January 23, 2010 - 11:41
lucu juga ya. Hahaha..benci hujan benci panas? Sama saja dengan tidak suka semua musim?
#2 by Hanif Ilham on January 23, 2010 - 13:10
hehe, begitulah, ada makna yang saya sengaja saya implisitkan, coba di cari,