Total komentar di blog ini 5945 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 44 komentar per artikel.

Benci Hujan, Benci Panas?


Angka seder­hana memang sulit dicerna. Seperti bukan hal yang nyata, saat angka-angka itu ter­pam­pang dalam unta­ian kehidu­pan yang begitu rumit kemu­dian dije­laskan. Banyak sudah yang ter­cipta untuk men­gor­bankan semua sendi-sendi rasa tol­er­ansi. Ada yang men­gang­gap semua hal yang telah diraih begitu suk­ses, ada yang berkata, tidak semua yang telah dim­i­liki­adalah nikmat rasanya. Namun, tidak den­gan Mak Sarip. Tubuh­nya yang telah tua, dit­ing­galkan oleh semua miliknya. Dulu meru­pakan kebang­gaan dan kejayaan. Saat sang suami, Bung Jiprek, begi­t­u­lah orang kam­pungnya memang­gilknya, san­gat dis­egani karena kekayaan yang tek ter­duga dipan­dang mata. Kini, Mak Sarip sendiri, walau harta itu masih men­e­mani, namun tidak den­gan darah dag­ingnya. Seper­tinya, tahun baru kali ini pun ia lewati saja den­gan duduk di depan layar kaca, dan tetap sendiri.

Akhirnya hujan turun den­gan lebat­nya. Seperti keroyokan saja menghu­jam penuh tanah. Hingga bau tanah merekah ke udara. Diantara sayup-sayup kera­ma­ian kam­pung itu, sebelum­nya ada per­ayaan kecil menyam­but tahun baru itu. “Kam­pret!” umpat Mak Sarip begitu kalang kabut men­gangkati jemu­ran­nya. Pada­hal sudah dibantu oleh pem­bantu dan tetang­ganya, “Tadi pagi panas­nya minta ampun, meleleh sudah kulit ini, kini hujan pula, lebat pula, Kam­pret!” Seper­tinya dirinya tetap saja men­geluh atas cuaca yang berubah seke­hen­dak hati Tuhan. “Sudahlah mak, toh jemu­ran sudah kita angkat, sekarang Mak isti­ra­hat dulu.” Kata seo­rang pem­ban­tunya yang bernama Minah. “Nah, buatkan saya sege­las teh hangat, sedikit gulanya, ingat, sedikit saja!” suruh Mak Sarip yang mirip den­gan ben­takan itu. Mak Sarip pun meminum tehnya, dikala hujan lebat meng­guyur perkam­pun­gan itu, ia tetap menatap penuh hampa lagit hitam dan kelam. Mela­mun jauh akan ingatan yang tak lagi bersi­nar. Sudah lalu, dan sudah masa lalu.

Kang, Mas, eh, dipang­gilin dari tadi kok gak noleh to?” sahut Angga kepada kakanya Rudy. “Oh, apa dek? kok buru-buru begitu?” “Mas, kau lupa yah? sekarang kita dapat cuti libur kerja sam­pai 3 hari sete­lah tahun baru, tak ter­pikirkah olehmu untuk pulang walaupun seje­nak Mas? Kita jen­guk Ibu­lah, sudah berapa tahun ini kita tidak pulang.” rudy hanya ter­diam, dan kemu­dian bert­e­duh dis­aat hujan meng­han­tam tubuh­nya dan adiknya. “Oh, aku masih kalut dek, sama sikap Ibu dulu. Lupa kau bahwa Ibu telah men­gusirku dulu, hanya karena kami berselisih pen­da­pat ten­tang cita-citaku?” “Aku mengerti kak, tapi tak bolehlah begini terus. aku mengiku­timu kan karena suruhan Ibu, agar dia dapat memas­tikan kau tidak men­galami masalah di Kota besar.” Kemu­dian sebuah mobil merepet mereka, dan meng­in­jak kuban­gan didekat mereka yang berisi tam­pun­gan air hujan, dan Splash! “HOI! Liat-liat dong kalau bawa mobil. Basah neh. Gara-gara hujan, begini deh jadinya. Dek, aku tetap belum ingin mau pulang ke rumah, jika kau ingin pulang, pulanglah.”

Kak, kem­ana lagi kau? Masih hujan begini, tung­gu­lah seben­tar,” “Tang­gung dek, ke kon­trakan saja sudah, sudah basah pula kita.” Mereka pun berlari menuju bus kota yang men­gan­tar mereka pulang. Dalam per­jalanan, Rudy tetap teringat uca­pan dan ajakan adek semata wayangnya itu. Yah, sudah ham­pir 3 tahun dirinya tidak pulang kerumah. Rasa sesal akan sikap Ibunya yang keras kepala tak urung mem­bu­at­nya eng­gan untuk pulang. Pulang? Dirinya hanya akan men­jadi cemoohan Ibunya jika hal itu ter­jadi, dan itu­lah yang berada dipiki­ran­nya. Sekarang dirinya men­jadi seo­rang pekerja kan­toran. Ibunya dulu menyu­ruh­nya melan­jutkan usaha bapaknya seba­gai jura­gan Sapi, den­gan keras meno­lak anaknya yang ingin pergi ke Kota. Yah, perselisi­han yang belum berakhir sekarang. Kemu­dian, belum sam­pai kon­trakan mereka, hujan telah reda. “Kam­pret! Reda lagi, kirain bakal lama nih hujan. Haduh, gagal semua ren­cana hari ini.” “Sudahlah kak, tak perlu men­gomel terus, syukuri saja, panas dan hujan kan nikmat Tuhan. Sudahlah men­gomel­nya.” Mereka pun tiba di kontrakan.

Nyonya, kok mela­mun? Gak baik Nya mela­mun diluar, din­gin, sekarang kan hujan, nanti masuk angin. Saya antar Nyonya ke dalam.” pinta Minah kepada sang majikan, Mak Sarip. Tek berapa lama, Mak Sarip ter­henyak dari lamu­nan­nya. Dan akhirnya kem­bali mengumpat, “Kam­pret! Kenapa lagi ini, hujan berhenti, panas lagi. Bah, bikin susah orang saja!” Yah, hujan pun berhenti saat itu. Semua ren­cana Mak Sarip pun gagal, teh hangat­nya pun­tak habis diminum­nya, “Nya, jan­gan men­gomel terus, sudah takdir Tuhan ini, nanti darah tinggi Nyonya naik lagi.” kemu­dian Minah men­gan­tar sang majikan ke dalam rumah. Dan per­seteruan hati antara mereka, Mak Sarip dan anaknya, Rudy, belum berakhir. Hanya ada satu kesamaan dalam keras­nya sikap mereka, yaitu mereka benci panas, dan benci hujan.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

, ,

  1. #1 by Hanif Ilham on January 5, 2010 - 18:41


    syd:

    kalau blog ini pakai plu­gin captcha apa mas ?

    coba search di add new plu­gin, “SI CAPTCHA Anti-Spam” ilan­gin tanda petiknya.

  2. #2 by Pencarian Puisi on January 5, 2010 - 23:05

    haha kayak aku saja, panas ataupun hujan tetap protes

  3. #3 by Budy Santoso on January 5, 2010 - 23:33

    Harus­nya banyak bersyukur boss biar nikmat di tambah.

    Salam suk­ses n ay lap yu pulll

  4. #4 by iLLa on January 6, 2010 - 07:25

    kalo tidak dib­i­asakan, kita memang cen­derung susakh untuk bersyukur. yahh, ting­gal pintar2nya kita lah mem­an­age otak dan piki­ran untuk selalu men­syukuri keadaan apapun. Toh, bukan tanpa alasan kan Tuhan men­gadakan ked­u­anya, panas dan hujan :P eace:

  5. #5 by san on January 6, 2010 - 08:48

    haha­ha­ha­haha„,
    mungkin dikasih salju aja supaya tidak protes.….

  6. #6 by Hanif Ilham on January 6, 2010 - 09:55


    Pen­car­ian Puisi:

    haha kayak aku saja, panas ataupun hujan tetap protes

    hehe, akhirnya ada yang ngaku nih… :D

    wah, ntar deh, saya bikin cerita ten­tang salju, yah, baca2 dulu salju tuh ben­tuknya gimana. hehe… :ngacir2

    Budy San­toso:

    Harus­nya banyak bersyukur boss biar nikmat di tambah.

    Salam suk­ses n ay lap yu pulll

    bener2, syukuri saja apa yang ada, hidup adalah anu­grah, tetap jalani hidup ini, men­jadikan yang ter­baik, D’masiv mode on… hehehe… :D


    iLLa:

    kalo tidak dib­i­asakan, kita memang cen­derung susakh untuk bersyukur. yahh, ting­gal pintar2nya kita lah mem­an­age otak dan piki­ran untuk selalu men­syukuri keadaan apapun. Toh, bukan tanpa alasan kan Tuhan men­gadakan ked­u­anya, panas dan hujan :Peace:

    bener2, karena semua ren­cana Tuhan untuk kebaikan manu­sia juga… :recsel


    san:

    haha­ha­ha­haha„,
    mungkin dikasih salju aja supaya tidak protes…..

  7. #7 by sumartono on January 6, 2010 - 13:10

    Dari cer­pen di atas, saya ambil hikmah­nya saja deh…intinya seba­gai manu­sia harus pandai-pandai bersyukur.

  8. #8 by Hanif Ilham on January 6, 2010 - 13:31


    sumartono:

    Dari cer­pen di atas, saya ambil hikmah­nya saja deh…intinya seba­gai manu­sia harus pandai-pandai bersyukur.

    benar, pak tono, memang manu­sia harus sering2 bersyukur akan nikmat yang diberikan, walau itu hanya sebuah hela­ian nafas… :hotrit :malu2

  9. #9 by bo13ok on January 6, 2010 - 15:56

    memang manu­sia makhluk yang serba tidak puas…
    enaknya yang serba pas aja, pas pin­gin hujan ya hujan, pasv pin­gin panas ya panas :D

  10. #10 by Andhika on January 6, 2010 - 16:06

    weis…
    nais cerpen

    banyak kata-kata ‘kam­pret’ yah

    hehe­hehe

  11. #11 by Hanif Ilham on January 6, 2010 - 16:39


    bo13ok:

    memang manu­sia makhluk yang serba tidak puas…
    enaknya yang serba pas aja, pas pin­gin hujan ya hujan, pasv pin­gin panas ya panas :D

    iyah, tidur siang saya ini saja ter­ganggu karena kamar yang semakin panas… hehehe


    And­hika:

    weis…
    nais cerpen

    banyak kata-kata ‘kam­pret’ yah

    hehe­hehe

    maunya yang lebih kasar mas dhika, hehe, namanya juga sas­tra, tak bisa diben­dung walau itu adalah caci maki, hehe, biar dapat momen­nya. halah.

  12. #12 by MasEDI Belajar NgeBlog on January 6, 2010 - 17:38

    Hmmm, itu lah manu­sia, ya begitu itu, sy pun trkadang jg begitu.…

    manu­sia gak per­nah ada puas­nya… >.<

  13. #13 by Hanif Ilham on January 6, 2010 - 18:05


    MasEDI Bela­jar Nge­Blog:

    Hmmm, itu lah manu­sia, ya begitu itu, sy pun trkadang jg begitu….

    manu­sia gak per­nah ada puas­nya… >.<

    hehe, begi­t­u­lah mas edi, manu­sia tidak per­nah puas, cukup ter­wak­ili kan den­gan cer­pen saya ini? :rate

  14. #14 by Vian on January 13, 2010 - 01:53

    dinikmati aja :D

  15. #15 by Hanif Ilham on January 13, 2010 - 09:31

    Type your com­ment here


    Vian:

    dinikmati aja :D

    sipp… memang semua hanya perlu dinikmati… :D

(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree