Total komentar di blog ini 5667 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 42 komentar per artikel.

Ekonomi Syariah


Greget? itu yang ingin ku ungkap­kan disini. Berbekal rasa ke ingin tahuan lebih akan sebuah perkem­ban­gan perekono­mian di Indone­sia, maka den­gan san­gat jelas aku dan seo­rang teman sekam­pusku mendaf­tarkan diri untuk mengikuti sebuah sem­i­nar perekono­mian Islam yang dis­e­leng­garakan oleh fakul­tas ekonomi UGM. Sebe­narnya, jika diband­ingkan den­gan maha­siswa lain­nya yang datang dari luar daerah, Jakarta, Semarang, dan lain­nya, mereka memi­liki pan­dan­gan ekonomi islam yang kuat. Sedan­gkan saya dan teman saya, hanya sekedar iseng. Wah, rugi dong!

Eng­gak lah! itu adalah ungka­pan rasa baha­gia saya sekarang. Men­gapa? Karena dalam sem­i­nar terse­but, diadakan 3 sesi materi. Yang mana men­ge­nalkan kemiski­nan di Indone­sia, kedua perekono­mian Islam di Indone­sia, dan ketiga, enter­pre­uner­ship yang mana ketiga sesi terse­but bikin greget. Wah, per­tama saja, sang dosen dari fakul­tas ekonomi ugm, yang mana terny­ata, tak disangka adalah salah satu orang ter­dekat boe­diono sang wapres kita sekarang. Enjoy yang saya dap­atkan ketika dirinya mem­berikan sebuah infor­masi menarik sep­utar pemer­in­ta­han saat ini, tentu dilengkapi den­gan data-data aku­rat dan grafik-grafik yang mana analogi dan logika seder­hananya mudah dimengerti. Sayangnya… ada hal yang saya takutkan muncul. Yaitu, paham kap­i­talis. Tentu tidak ter­li­hat sejak mem­berikan materi. Namun, nara­sum­ber mulai meli­hatkan pan­dan­gan kuat­nya ten­tang kap­i­talis saat sesi tanya jawab. Sung­guh tak disangka, tokoh adam smith ser­ing sekali diu­cap­kan­nya. Saya bin­gung, kok, sem­i­nar ekonomi islam, nara­sum­ber seke­las dirinya, tidak mengerti sama sekali ekonomi islam? apa dia gak salah masuk untuk mem­berikan materi? kok adanya ekonomi kap­i­talis dar­i­tadi? terny­ata tak hanya saya yang merasakan tekanan dan rasa yang menyudutkan ini.

Namun, rasa kesal itu sirna sete­lah sesi kedua masuk, yaitu, sesi materi ekonomi islam. Sung­guh hal yang menye­nangkan, saat nara­sum­ber mem­berika nalaogi ten­tang hadits Rasul­lul­lah SAW seperti ini. “7 tahun per­tama usia anak, ajar­i­lah dia bermain, 7tahun kedua ajar­i­lah dia disi­plin, 7tahun ketiga jadi­lah saha­bat baiknya, 7 tahun keem­pat buat­lah dirinya dewasa.” hadits terse­but dianalogikan seperti ini, jika ekonomi islam muncul pada tahun 1992 den­gan adanya bank Mua­malat, maka 7tahun per­tama, yaitu saat 1992–1999, bank syariah seperti anak kecil yang masih diliputi rasa “bermain” den­gan art­ian, penye­baran ekonomi islam masih merunut pada ekonomi kon­ven­sional yang masih mem­per­si­ap­kan dan tahap pen­ge­nalan pada masyarakat, kemu­dian 7tahun kedua, yaitu 1999–2006 dimana ekonomi islam melakukan beber­apa disi­plin, baik dari struk­turnya, instru­ment keuan­gan, dsb. 7tahun ketiga, 2006–2013 yaitu pada masa sekarang, saat ekonomi islam tidak run­tuh aki­bat den­gan run­tuh­nya pasar dunia di Amerika, maka den­gan begitu kita dapat mengerti banyak bank-bank kemu­dian mendirikan bank syariah, ini­lah yang dikawal seba­gai teman baik agar ekonomi islam dapat melekat dihati masyarakat. dan 7tahun ter­akhir, saat 2013–2020 bahkan seterus­nya, nara­sum­ber yakin, bangsa Indone­sia akan bangkit dari masa perkem­ban­gan men­jadi masa maju yang mana ekonomi syariah seba­gai san­daran untuk men­er­jang perekono­mian dunia. Analogi ini san­gat menyen­tuh. Apalagi benar-benar hanya den­gan satu hadits dapat diim­ple­men­tasikan seperti itu. Sung­guh saya san­gat terharu.

Dan ter­akhir sesi enter­pre­uner. Jika den­gan sesi ke 2 bahwa ekonomi Indone­sia akan bangkit den­gan didampingi ekonomi Islam, maka tidak heran jika nara­sum­ber kali ini mem­berikan materi bahwa enter­pre­uner seba­gai ujung tombak men­gangkat ekonomi Indone­sia. Tidak­lah sulit jika akhirnya sesi terse­but men­ga­jarkan bagaimana meng­gu­nakan dan mem­buat bussi­ness plan secara mudah. Dan hasil­nya, sung­guh men­cen­gangkan, sebuah ide bis­nis dan wirausaha yang tadinya hanya ada di dalam benak saya, dapat di kelu­arkan den­gan mudah. Dan sung­guh peren­canaan tak per­nah sejauh itu sebelum­nya, hingga bagaimana ben­tuk tokonya, apa saja yang berada didalam­nya, bagaimana keryawan­nya, harga jual pro­duknya, semua yang dibu­tuhkan untuk men­jadi enter­pre­neur san­gat terasa dis­ana. Ten­tunya nara­sum­ber kali ini adalah prak­tisi yang sudah berbis­nis dan ter­bilang cukup suk­ses. Maka dari itu tak ada salah­nya jika saya mem­bagi pen­gala­man indah ini kepada pem­baca semua.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

  1. #1 by Budi Hermanto on December 14, 2009 - 09:18

    hmm..
    byk kelebi­han ekonomi syariah..
    yg diam2 ditru oleh bangsa barat..
    untuk men­gangkat perekono­mian saat ini.. ;)
    ..
    btw, 10 teman yg men­da­p­atkan..
    novel Debu Cin­tayana..
    bisa dil­i­hat di artasastra.com :D

    • #2 by Hanif Ilham on December 15, 2009 - 08:14

      sayang saya tidak menang, hehe, karena emg saya gak ikut mem­ba­has­nya, wah, tentu, ekonomi syariah yang lebih manu­si­awi diharap dapat men­jadi ujung tombak perekono­mian Indone­sia. seperti bank cen­tury yang masih saja men­jadi masalah karena sis­tem­nya kap­i­talis, semakin banyak orang tergiur untuk korupi akhirnya. hehe

  2. #3 by Ono Karsono on December 22, 2009 - 14:22

    Semoga akan semakin bertam­bah bank-bank Syariah di daerah. Sehingga sis­tem syariah yang lebih adil ini semakin dike­nal oleh masyarakat.

  3. #4 by Hanif Ilham on December 23, 2009 - 17:57


    Ono Kar­sono:

    Semoga akan semakin bertam­bah bank-bank Syariah di daerah. Sehingga sis­tem syariah yang lebih adil ini semakin dike­nal oleh masyarakat.

    semoga saja, kita doakan agar kita tidak ter­lalu bergan­tung lagi pada pasar2 amerika yang merugikan kita.

  4. #5 by Vian on January 13, 2010 - 03:51

    syariah 100% kah ??
    ada satu per­tanyaan yg hingga kini masih meng­gan­jal:
    bagi hasil = bunga ? Apa cuma ganti nama ?
    yaa kl usaha dgn seba­gian pinjaman/hutang ( dari bank “syariah” ) berhasil, nah kl bangkrut napa wajib melu­nasi dan kl tdk bisa agu­nan disita. So itukah syariah ?
    Semoga ada pen­je­lasan dari ulama ( or dalil yg syahih )

  5. #6 by Hanif Ilham on January 13, 2010 - 09:37

    Type your com­ment here


    Vian:

    syariah 100% kah ??
    ada satu per­tanyaan yg hingga kini masih meng­gan­jal:
    bagi hasil = bunga ? Apa cuma ganti nama ?
    yaa kl usaha dgn seba­gian pinjaman/hutang ( dari bank “syariah” ) berhasil, nah kl bangkrut napa wajib melu­nasi dan kl tdk bisa agu­nan disita. So itukah syariah ?
    Semoga ada pen­je­lasan dari ulama ( or dalil yg syahih )

    100% itu kon­sep, untuk imple­men­tasi yang pas itu perlu kesesua­ian, untuk bisa lebih paham coba lihat blog­grol saya yang berada di bawah, postin­gan, klik saja pen­gusaha mus­lim, semoga bisa membantu

  6. #7 by hypotheek on August 12, 2010 - 21:43

    Hoeveel kan ik lenen? (hypotheek). Wat wor­den mijn maand­las­ten? (hypotheek) … Hoeveel hypotheek heb ik nodig? Hoe hoog is de boete die ik nu zou moeten

(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree