Sekedar sharing sja untuk para pembaca blog saya. Mungkin dari kita sudah atau bhakan terlalu paham untuk menjadi seorang yang peduli akan suatu kondisi maupun akan suatu masalah orang lain. Namun bagaimanakah jika rasa peduli yang ada di dalam diri kita ini luntur? Atau bahkan hilang sama sekali. Jangan mengatakan peduli jika suatu kondisi mendadak anda dipanggil oleh rasa peduli anda tetapi tidak menanggapinya. Sungguh hal yang sangat disayangkan bukan? Apakah anda anti sosial? saya harap tidak demikian.
Ini bermula kejadian kemaren. Saat itu, di kost-kostan saya, ada seorang pengemis yang berkeliling meminta sedikit rejeki dari kita. Akhirnya seorang teman saya memberikan receh padanya. Kemudian, selang beberapa waktu kemudian, kira-kira 1–2 jam, ada seseorang datang lagi dengan membawa “amplom” nah apa yang ada dipikiran anda? Ya, mungkin sama dengan anda, pikiran saya mengatakan, “loh, kok ada lagi pengemis yang datang?” karena pada saat itu saya habis pulang dari jalan-jalan, dan tepat berada diluar kst-kostan, jadi mau tidak mau saya terima. “Dek, maaf saya dari perwakilan RT, bisa saya masuk dan menjelaskan sebentar?” Nah, itulah yang saya maksud rasa peduli yang ingin saya bahas. Akhirnya perbincangan pun dimulai.
“Oh, silahkan pak, ada apa ya?”, “Begini, karena disini banyak sekali pendatang, bahkan ada yang punya rumah baru juga, jadi saya selaku perangkat RT ingin mendata ulang semua warga yang ada disini.” Akhirnya kami pun ngobrol-ngobrol. Dan diujung pembicaraan beliau mengatakan, “Sebenarnya saya agak kecewa loh dek,” “Kenapa pak?” “Soalnya, itu, ibu-ibu yang punya mobil Avansa, yang rumah baru, tadi saya ketuk pintunya baik-baik gak di bukain pintu, padahal ada orangnya di rumah, mungkin saya dikira pengemis yah, cocok kan kalau sudah bawa amplop begini? Yah, itulah dek, sepertinya mereka kurang peduli. Kan saya ini cuma menjalankan tugas, lagian didaerah sini kan belum ada papan nama, jadi saya juga ingin menjelaskan ke mereka kalau seandainya ingin menerima paket pos, bisa lewat RT kalau belum ada nama jalan atau gang disini, itu kan untuk membantu mereka, yah, entahlah kenapa sekarang begini.”
Itulah yang diceritakan oleh perangkat RT yang datang ke kost-kostanku, mungkin beliau tidak tahu sebenarnya jika tadi sudah ada pengemis yang datang, dan semua orang akan berpandangan sama, jika datang lagi dan lagi, rasa enggan untuk memberi pastilah ada. Seandainya bapak tadi datang dengan memakai Jaz, mungkin juga akan ditolak karena disangka salesman. Wah, susah memang yah, untung saya masih mendengarkan beliau disaat pertama datang, kalau tidak bisa saya usir juga. Astagfirullahhallazim… Semoga rasa peduli walaupun sedikit masih tersisa di hati.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Mengenal Hadist Yuk… — August 15th, 2010
- Baca Berita yang Unik-unik — August 13th, 2010
- Walau Sebatas EDGE — August 11th, 2010
- Berbuat Baik Itu, Tak Harus Menunggu — July 18th, 2010
- Saya tak merasa seperti blogger hari ini. — July 8th, 2010



Twitter
RSS
#1 by bestsellerliste bücher on September 1, 2010 - 19:15
Danke für das Waren, dies Bereich hat mich interessé tatsächlich viel. Grace hinein dies Artikel habe ich neuste Sachen entscheident gelernt, eine perfekte ich keinesfalls kannte. Danke, bravo und ebenfalls Respekt.
#2 by classifica libri on September 2, 2010 - 14:45
Grazie saputo questo sito , un grado d ‘intossicazione tema mi ha veramente pieno interessato.
#3 by christliche bücher on September 2, 2010 - 21:56
Danke für das Angebote, dies Gebiet hat mich interessé echt entscheident. Grace inside dies Schnäppchen konnte ich beste Sachen viel gelernt, die ich mitnichten kannte. Danke, bravo sowie Respekt.