Total komentar di blog ini 5667 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 42 komentar per artikel.

Kurangnya Rasa Peduli


Sekedar shar­ing sja untuk para pem­baca blog saya. Mungkin dari kita sudah atau bhakan ter­lalu paham untuk men­jadi seo­rang yang peduli akan suatu kon­disi maupun akan suatu masalah orang lain. Namun bagaimanakah jika rasa peduli yang ada di dalam diri kita ini lun­tur? Atau bahkan hilang sama sekali. Jan­gan men­gatakan peduli jika suatu kon­disi men­dadak anda dipang­gil oleh rasa peduli anda tetapi tidak menang­gapinya. Sung­guh hal yang san­gat dis­ayangkan bukan? Apakah anda anti sosial? saya harap tidak demikian.

Ini bermula keja­dian kemaren. Saat itu, di kost-kostan saya, ada seo­rang pengemis yang berke­lil­ing mem­inta sedikit rejeki dari kita. Akhirnya seo­rang teman saya mem­berikan receh padanya. Kemu­dian, selang beber­apa waktu kemu­dian, kira-kira 1–2 jam, ada sese­o­rang datang lagi den­gan mem­bawa “amplom” nah apa yang ada dipiki­ran anda? Ya, mungkin sama den­gan anda, piki­ran saya men­gatakan, “loh, kok ada lagi pengemis yang datang?” karena pada saat itu saya habis pulang dari jalan-jalan, dan tepat berada diluar kst-kostan, jadi mau tidak mau saya ter­ima. “Dek, maaf saya dari per­wak­i­lan RT, bisa saya masuk dan men­je­laskan seben­tar?” Nah, itu­lah yang saya mak­sud rasa peduli yang ingin saya bahas. Akhirnya perbin­can­gan pun dimulai.

Oh, silahkan pak, ada apa ya?”, “Begini, karena disini banyak sekali pen­datang, bahkan ada yang punya rumah baru juga, jadi saya selaku perangkat RT ingin men­data ulang semua warga yang ada disini.” Akhirnya kami pun ngobrol-ngobrol. Dan diu­jung pem­bicaraan beliau men­gatakan, “Sebe­narnya saya agak kecewa loh dek,” “Kenapa pak?” “Soal­nya, itu, ibu-ibu yang punya mobil Avansa, yang rumah baru, tadi saya ketuk pin­tunya baik-baik gak di bukain pintu, pada­hal ada orangnya di rumah, mungkin saya dikira pengemis yah, cocok kan kalau sudah bawa amplop begini? Yah, itu­lah dek, seper­tinya mereka kurang peduli. Kan saya ini cuma men­jalankan tugas, lagian didaerah sini kan belum ada papan nama, jadi saya juga ingin men­je­laskan ke mereka kalau seandainya ingin mener­ima paket pos, bisa lewat RT kalau belum ada nama jalan atau gang disini, itu kan untuk mem­bantu mereka, yah, entahlah kenapa sekarang begini.”

Itu­lah yang dicer­i­takan oleh perangkat RT yang datang ke kost-kostanku, mungkin beliau tidak tahu sebe­narnya jika tadi sudah ada pengemis yang datang, dan semua orang akan berpan­dan­gan sama, jika datang lagi dan lagi, rasa eng­gan untuk mem­beri pasti­lah ada. Seandainya bapak tadi datang den­gan memakai Jaz, mungkin juga akan dito­lak karena disangka sales­man. Wah, susah memang yah, untung saya masih menden­garkan beliau dis­aat per­tama datang, kalau tidak bisa saya usir juga. Astag­fir­ul­lah­hal­lazim… Semoga rasa peduli walaupun sedikit masih ter­sisa di hati.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

, ,

  1. #1 by bestsellerliste bücher on September 1, 2010 - 19:15

    Danke für das Waren, dies Bere­ich hat mich inter­essé tat­säch­lich viel. Grace hinein dies Artikel habe ich neuste Sachen entschei­dent gel­ernt, eine per­fekte ich keines­falls kan­nte. Danke, bravo und eben­falls Respekt.

  2. #2 by classifica libri on September 2, 2010 - 14:45

    Gra­zie saputo questo sito , un grado d ‘intossi­cazione tema mi ha vera­mente pieno interessato.

  3. #3 by christliche bücher on September 2, 2010 - 21:56

    Danke für das Ange­bote, dies Gebiet hat mich inter­essé echt entschei­dent. Grace inside dies Schnäp­pchen kon­nte ich beste Sachen viel gel­ernt, die ich mit­nichten kan­nte. Danke, bravo sowie Respekt.

1 ... 3 4 5
(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree