Tak terasa sudah, sudah sejak 18 Februari 2009, aku berada di Kalimantan, tulisan ini juga tidak tepat aku tulisakan untuk postingan tanggal ini, ku buat schedule agar liburanku tetap teratur tidak dikejar-kejar deadline update artikel di blog. Mungkin karena kisah liburanku ini jauh dari kesan mewah, jauh juga dari kesan petualangan di kampung, karena aku bukan di kampung walau liburan adalah pulang kampung dari kota yang penuh hingar bingar fasilitas lengkap, di sini aku jauh deri kesan itu. Liburanku di Kalimantan, pulang ke rumah, kangen rasanya, rindu yang telah terobati.
Menjadi mahasiswa juga bukan pilihan mudah, untuk apa hidup jika mudah dilalui? sayangnya kalimat motivasi itu sudah tak asing bagiku tapi asing bagi jiwaku. Sukarnya mengejar prestasi, sampai berfikir mungkin aku bukan yang berprestasi. Sukarnya ingin berhasil, sampai berpikir mungkin aku bukanlah orang yang berhasil. Sukarnya untuk hidup tenang, mungkin aku pribadi membawa masalah. Semua serangan jiwa itu menghampiri seluruh otakku. Perlahan dan pasti, cepat dan keroyokan, seakan diri ini berada di tengah arus samudra hingga menghadapinya butuh tenaga super ekstra. Banyak yang bilang kuliah itu bagian dari penduduk yang 3% dari penduduk Indonesia, tapi aku juga tak merasa begitu. Apa orak ini sudah kandung resah? Akhirnya ku putuskan berlibur sejenak, tenang di kota kelahiran, tanpa harus sumpek karena aku bisa melepas rindu dengan adik-adikku, dan orang tuaku, sejenak saja.
Kotaku, kota yang aneh, berada di garis khatulistiwa menjadikannya kota yang ulit di terka atas cuaca, musim karena kadang hujan pagi hari, panas siang hari, hujan lagi malam hari. Hujan kan berkah dari Allah? yah, benar, tapi panas kan juga berkah, karenanya ada keseimbangan, maaf keluar dari topik. Kotaku terletak di dekat laut, walau tak banyak pantai bagus seperti di pulau jawa, juga dekat dengan bukit tinggi, walau tak sebagus di bogor dan bandung. Panas? yah, itu resiko berada di khatulistiwa, mungkin pernah merasakan panasnya Jogja atau Surabaya? kotaku mungkin lebih panas. walau bukan panas polusi, murni matahri, hitamnya kulit? wah, kulit saya sudah menghitam nih, hehe.
Kotaku kota Indusri, kelapa sawit, di kota sebelah, batu bara juga di kota sebelah, minyak di kota sebelah juga, kotaku apa? kotaku penghasil pupuk kimia, olahan, atau di sebut pupuk pabrik, itu sebutanku loh, hehe, dan juga gas alam, sayangnya bukan kota wirausaha, sehingga mall hanya ada 3 di kota ini, itu juga jauh dari bayangan mall besar di kota besar, maklum, investor takut rugi memberikan mall besar-besar, penduduknya kan tidak banyak, lagian jika musim libur anak sekolah, belanja besar-besaran juga dilakoni di kota tetangga, maklum kota tetangga sudah Ibukota Provinsi, jadi mall besar sudah sampai disana.
Penduduk asli? Bingung aku ditanya begitu. Wong, orang tua saya perantauan, saat musim transmigrasi besar-besaran tempo tahun 1980an, dan ekspansi, bahasa kasarnya begitu, menjadikan penduduk asli semakin sulit di temui, kalaupun ada, sudah tidak murni lagi, karena campuran antara penduduk asli dan pendatang. Bahasa? Jangan harap seperti di Jawa yang kebanyakan bahasa jawa, disini, bahasa campur aduk, anda mungkin akan kaget mendengar atau bertemu dengan orang berbahasa bugis, dan banjar (banjarmasin), apalagi jawa. Karena pencampuran sebagai pendatang inilah yang menjadikan bahasa penduduk asli pergi entah kemana. Sampai 20 tahun umur saya juga belum pernah mendengar bahasa asli. Walau banyak yang bilang, bahasa banjarmasin, bahasa kalimantan juga. Saya juga belum paham akan hal ini.
Kemudian, makanan khas? apa yah? sama kalau ini bingungnya, gak usah dijelasinnya, setahuku sih Amplang, karena Khas dari kalimantan, walau sebenarnya saja juga kurang paham, saat saya bilang amplang adalah makanan khas sana, seorang teman mengatakan, “wah, sudah banyak di temui” yah, rada aneh juga akhirnya mau bilang khasnya apa. Akhirnya saya berniat untuk membeli oleh-oleh dan mencarinya apa yang khas, masih terus berpikir, apa yah?
Mungkin liburan ke kampung halaman adalah hal biasa. Namun berkumpul dengan keluarga di kota penuh kenangan adalah hal yang luar biasa. Karena kebersamaan, rasa kekeluargaan yang kini kurasakan sangat menyenangkan. Walau nanti harus kembali lagi berjuang di kota besar, setidaknya ada penghargaan yang ingin segera ku raih untuk keluargaku, semoga saja cepat terwujud, amin.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Karpet Terbuat dari 70.000 Bunga? - March 9th, 2010
- Plugins Menarik yang Ku Temui - March 6th, 2010
- Jangan biarkan SEO membunuh Blogmu! - March 3rd, 2010
- Menginstal Wordpress Di Komputermu - February 28th, 2010
- Permintaan Tukeran Link - February 25th, 2010





#1 by Hanif Ilham on February 1, 2010 - 18:26
oh, di pontianak ya? hehe, sama saja kalau begitu, sama2 bukan di pulau jawa. hehe,,, banyak juga kok orang jawanya, yang dari dulu gak pernah berubah itu, mati lampu. hehe, kalau di jawa jarang sekali mati lampu. hoho…
#2 by ravimalekinth on February 8, 2010 - 05:22
Mana nih foto-fotonya, kok cuma tulisan saja?
Ditunggu ya kiriman oleh-olehnya! Hahaha :P
#3 by ardian eko on February 14, 2010 - 16:35
Wow,, kuliah dimana mas?? seru juga lho kalo merantau itu. Merasakan manis pahitnya kehidupan
#4 by Hanif Ilham on February 15, 2010 - 13:26
saya merantau ke Jogja-kota pelajar. hehe, yah, karena di kalimantan universitas bagus cuma sedikit sekali. jadi merantau deh, benr mas ardi, pahitnya sudah banyak saya rasakan, tinggal mengejar manisnya aja. hehe,
#5 by budies on February 15, 2010 - 20:02
wow sama kalimantan kita lah
#6 by DickersonMYRNA19 on March 2, 2010 - 16:56
One knows that life is not very cheap, but some people need cash for various things and not every man gets big sums money. Therefore to get fast business loans and just short term loan will be a correct solution.