Total komentar di blog ini 5667 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 42 komentar per artikel.

Pergeseran Bahasa, Pergeseran Budaya


Per­nah den­gar ALAY? atau LEBAY? atau SOK-ENLISH? atau apalah macam-macam pena­maan yang diberikan suatu komu­ni­tas ter­tentu kepada komu­ni­tas yang lain sehingga men­jadi epho­ria tanpa henti yang men­gak­i­batkan selu­ruh lapisan masyarakat meng­gu­nakan makna dan kata yang sama. Betul? Betul…

Nah, saya sedikit miris meli­hat perkem­ban­gan bangsa ter­cinta. Sebe­narnya mau berkem­bang maju kearah mana? kearah jati diri bangsa atau kearah yang dom­i­nan den­gan warna bangsa asing? barat? amerika? sok eng­lish? atau bagaimana? per­tanyaan ini saya lon­tarkan pada diri sendiri sem­bari melihat-lihat lingkun­gan sek­i­tar, mem­baca koran, meli­hat TV, bermain face­book dan ada beber­apa anal­isa yang saya lakukan yang men­da­p­atkan hasil seperti demikian.

Per­tama, ALAY. Fenom­ena kacau balau ini ter­jadi karena ekspre­sifnya kaum muda-mudi dalam mengem­bangkan bahasanya, namun kearah yang aneh menu­rut saya. Kok? Yah, lihat saja distatus-status face­book yang mana bahasa mereka cip­takan sendiri, dan yang mengerti mereka sendiri juga. Aneh? tentu… bahasa kita sudah dis­usun secara baik sejak masa per­juan­gan para pahlawan. Apakah hingga saat ini merasa kurang puas den­gan bahasa yang kita gunakan? hingga meng­gu­nakan bahasa yang tentu saja tidak berdasar terse­but? tentu men­galami pro dan kon­tra yang hebat. Caci maki, hinaan, perde­batan muncul ke per­mukaan. Anal­isa saya, mungkin mereka bertrans­for­masi dari gaya mereka menuliskan kata-kata dalam SMS (Short Mes­sage Ser­vice) yang mana bahasa saat itu memang perlu dis­ingkat. Tapi kalau sam­pai luber dan menye­bar ke media-media lain­nya, apa perlu?

Kedua adalah LEBAY. Agaknya saya kurang setuju den­gan pena­maan itu. Hehe, karena sendirinya saya juga terkadang “Lebay” ter­hadap suatu keadaan. Kata orang, “men­drama­tisir” keadaan semestinya. Saya tidak setuju? Jelas. Coba lihat para sen­i­man kita, yang mem­ba­cakan puisi, menulis sajak, cer­pen hingga novel, apakah mereka tidak men­drama­tisir keadaan untuk men­da­p­atkan sebuah momen­tum dalam pen­cip­taan karya mereka? Mereka sejatinya perlu menangkap sebuah situ­asi dalam kehidu­pan realita ini secara lebih hebat diband­ingkan manu­sia kebanyakan. Sehingga hasil karya mereka dapat mem­buat pem­ba­canya berde­cak kagum dan ter­pes­ona. Lucu sih, saat per­ayaan hari Ibu 22 Desem­ber 2009 kemaren, saya menulis sta­tus di face­book bahwa “saya rindu rumah dan ingin pulang,” kira-kira seperti itu. Namun apa yang ter­jadi, “Lebay”. Yah, itu tang­ga­pan dari beber­apa orang yang men­go­men­tari sta­tus saya. Aneh, mau saya ajak berde­bat, cuma sayang masih teman sendiri. Yah, kasi­han saja jika emosi mereka sudah lun­tur ter­hadap hedo­nisme barat yang mana perasaan sudah dike­samp­ingkan den­gan akal dan logika berlebihan.

Nah, yang terkahir adalah, SOK-ENGLISH? coba baca seperti cinta laura kata “SOK-ENGLISH”, nah bagaimana? mau tertawa? hahaha, aneh bukan? Coba pem­baca men­gun­jungi sebuah kan­tor instansi atau swasta, maka terkadang mereka mem­buat sebuah slo­gan dalam ben­tuk tulisan indonesia-inggris. “HAPPY HOLIDAYS, kun­jungi gerai kami dan dap­atkan SALE hingga 30% UNDER ORIGINAL PRICE.” Sebe­narnya yang mem­buat span­duk itu ingin menangkap kon­sumen Indone­sia, wisa­tawan asing, atau yang mana? Kok bahasa dicampur-campur? Pada­hal wisa­tawan asing yang berbe­lanja dis­itu tidak­lah lebih banyak dari warga sendiri. Atau merasa lebih keren den­gan bahasa asing? apa bahasa Indone­sia tidak keren? Wah, cobalah pem­baca meni­lai sendiri beber­apa kasus dimasyarakat.

Demikian beber­apa anal­isa saya yang telah saya jabarkan. Tentu, bahasa nasional kita yaitu bahasa Indone­sia akan punah jika terus-terusan seperti ini. Yah, den­gan art­ian bahwa war­ganya sendiri sudah eng­gan memakai bahasa Indone­sia yang baik dan benar. Perge­seran budaya yang telah lama meng­gerus bangsa ini, bukan tidak mungkin kita akan kehi­lan­gan sebuah kebang­gaan diri untuk meng­gu­nakan bahasa sendiri. Semoga saja, kita sadar bahwa meng­gu­nakan bahasa Indone­sia yang baik dan benar adalah salah satu wujud melestarikan kebu­dayaan sendiri untuk anak cucu kita nanti.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

  1. #1 by Hanif Ilham on January 3, 2010 - 13:37


    Aulia:

    pan­te­san pak tif juga ikut ngomong masalah alay ini sampe masuk detik segala :D

    kalo pak tif (ini pak tif yang mana yah?) yang sekarang men­tri komu­nikasi? wah, kalau beliau yang bicara, lain den­gan saya, beliau bisa diliput, kalau saya kan bisa dis­i­mak disini. hehe, ini cuma anal­i­sis saya saat mem­baca buku2 jur­nalis. yang heran saja sama :alay ehehe

  2. #2 by Deka on January 8, 2010 - 16:46

    Perasaan saya mah makin aneh saja jaman sekarang mah, apa­nya yang salah. ya…??

  3. #3 by Hanif Ilham on January 8, 2010 - 18:28


    Deka:

    Perasaan saya mah makin aneh saja jaman sekarang mah, apa­nya yang salah. ya…??

    hehe, apa yah? ntahlah…

  4. #4 by Vian on January 13, 2010 - 03:45

    kl bukan kita yg meng­har­gai, lan­tas siapa lagi ???

  5. #5 by Hanif Ilham on January 13, 2010 - 09:35

    Type your com­ment here


    Vian:

    kl bukan kita yg meng­har­gai, lan­tas siapa lagi ???

    yah, benar, siapa lagi? hehe… cuma kita­lah yang bisa… :D

  6. #6 by DuncanKARIN29 on February 28, 2010 - 18:05

    Have no cash to buy a build­ing? Worry no more, because this is achiev­able to take the busi­ness loans to work out all the prob­lems. Thus take a stu­dent loan to buy every­thing you want.

  7. #7 by Kerry on July 22, 2010 - 05:14

    Thank you very much for post­ing this good info! I am look­ing for­ward to check­ing out more blogs.

  8. #8 by Vince Delmonte on July 28, 2010 - 04:41

    I have searched all over google for info on this topic, I finally found a good post, look­ing for­ward to com­ing back!

(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree