Pernah dengar ALAY? atau LEBAY? atau SOK-ENLISH? atau apalah macam-macam penamaan yang diberikan suatu komunitas tertentu kepada komunitas yang lain sehingga menjadi ephoria tanpa henti yang mengakibatkan seluruh lapisan masyarakat menggunakan makna dan kata yang sama. Betul? Betul…
Nah, saya sedikit miris melihat perkembangan bangsa tercinta. Sebenarnya mau berkembang maju kearah mana? kearah jati diri bangsa atau kearah yang dominan dengan warna bangsa asing? barat? amerika? sok english? atau bagaimana? pertanyaan ini saya lontarkan pada diri sendiri sembari melihat-lihat lingkungan sekitar, membaca koran, melihat TV, bermain facebook dan ada beberapa analisa yang saya lakukan yang mendapatkan hasil seperti demikian.
Pertama, ALAY. Fenomena kacau balau ini terjadi karena ekspresifnya kaum muda-mudi dalam mengembangkan bahasanya, namun kearah yang aneh menurut saya. Kok? Yah, lihat saja distatus-status facebook yang mana bahasa mereka ciptakan sendiri, dan yang mengerti mereka sendiri juga. Aneh? tentu… bahasa kita sudah disusun secara baik sejak masa perjuangan para pahlawan. Apakah hingga saat ini merasa kurang puas dengan bahasa yang kita gunakan? hingga menggunakan bahasa yang tentu saja tidak berdasar tersebut? tentu mengalami pro dan kontra yang hebat. Caci maki, hinaan, perdebatan muncul ke permukaan. Analisa saya, mungkin mereka bertransformasi dari gaya mereka menuliskan kata-kata dalam SMS (Short Message Service) yang mana bahasa saat itu memang perlu disingkat. Tapi kalau sampai luber dan menyebar ke media-media lainnya, apa perlu?
Kedua adalah LEBAY. Agaknya saya kurang setuju dengan penamaan itu. Hehe, karena sendirinya saya juga terkadang “Lebay” terhadap suatu keadaan. Kata orang, “mendramatisir” keadaan semestinya. Saya tidak setuju? Jelas. Coba lihat para seniman kita, yang membacakan puisi, menulis sajak, cerpen hingga novel, apakah mereka tidak mendramatisir keadaan untuk mendapatkan sebuah momentum dalam penciptaan karya mereka? Mereka sejatinya perlu menangkap sebuah situasi dalam kehidupan realita ini secara lebih hebat dibandingkan manusia kebanyakan. Sehingga hasil karya mereka dapat membuat pembacanya berdecak kagum dan terpesona. Lucu sih, saat perayaan hari Ibu 22 Desember 2009 kemaren, saya menulis status di facebook bahwa “saya rindu rumah dan ingin pulang,” kira-kira seperti itu. Namun apa yang terjadi, “Lebay”. Yah, itu tanggapan dari beberapa orang yang mengomentari status saya. Aneh, mau saya ajak berdebat, cuma sayang masih teman sendiri. Yah, kasihan saja jika emosi mereka sudah luntur terhadap hedonisme barat yang mana perasaan sudah dikesampingkan dengan akal dan logika berlebihan.
Nah, yang terkahir adalah, SOK-ENGLISH? coba baca seperti cinta laura kata “SOK-ENGLISH”, nah bagaimana? mau tertawa? hahaha, aneh bukan? Coba pembaca mengunjungi sebuah kantor instansi atau swasta, maka terkadang mereka membuat sebuah slogan dalam bentuk tulisan indonesia-inggris. “HAPPY HOLIDAYS, kunjungi gerai kami dan dapatkan SALE hingga 30% UNDER ORIGINAL PRICE.” Sebenarnya yang membuat spanduk itu ingin menangkap konsumen Indonesia, wisatawan asing, atau yang mana? Kok bahasa dicampur-campur? Padahal wisatawan asing yang berbelanja disitu tidaklah lebih banyak dari warga sendiri. Atau merasa lebih keren dengan bahasa asing? apa bahasa Indonesia tidak keren? Wah, cobalah pembaca menilai sendiri beberapa kasus dimasyarakat.
Demikian beberapa analisa saya yang telah saya jabarkan. Tentu, bahasa nasional kita yaitu bahasa Indonesia akan punah jika terus-terusan seperti ini. Yah, dengan artian bahwa warganya sendiri sudah enggan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pergeseran budaya yang telah lama menggerus bangsa ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan sebuah kebanggaan diri untuk menggunakan bahasa sendiri. Semoga saja, kita sadar bahwa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah salah satu wujud melestarikan kebudayaan sendiri untuk anak cucu kita nanti.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Karpet Terbuat dari 70.000 Bunga? - March 9th, 2010
- Plugins Menarik yang Ku Temui - March 6th, 2010
- Jangan biarkan SEO membunuh Blogmu! - March 3rd, 2010
- Menginstal Wordpress Di Komputermu - February 28th, 2010
- Permintaan Tukeran Link - February 25th, 2010





#1 by M. Niam on December 29, 2009 - 16:53
Saya juga miris Mas, kita ini semakin lama semakin terjajah saja. Bukan secara kasat mata dan fisik, tetapi dalam pola pikir, budaya juga nilai. Salah satunya bahasa, pencmpuran bahasa Indo dgn inggris juga malah mengacaukan mnrt saya. Jk emang mau inggris ya inggris semua, ttp sebisa mungkin pake B. Indonesia. Di malaysia-maaf- ada gerakan pemurnian bahasa melayu mereka dari inggris, krn di sana warga sudah terbiasa mencampur2 bhs melayu dgn inggris. Knp tidak kita ikuti?bknkah itu baik. Apa gunanya setiap tahun memperingati sumpah pemuda yg salah satunya menjunjung tinggi bahasa Indonesia tp dalam keseharian kita berbangga-bangga klo sudah bisa berbicara dengansedikit2 mencampur dgn inggris.
Salam kenal dan hangat, terima kasih kunjungannya ke wongjalur.com
#2 by Hanif Ilham on December 29, 2009 - 16:59
wah, analisis mendalam, sampai ke negri jiran.
tentu, anda akan merasa sangat bersemangat jika hidup ditahun 70an, dimana chairil anwar membacakan puisi Indonesia dengan gagah, atau bahkan sapardi djoko damono dengan karya cerpennya yang wah, jika dibandingkan dengan karya sekarang, miris… trims udah mampir…
#3 by Aulia on January 2, 2010 - 19:29
pantesan pak tif juga ikut ngomong masalah alay ini sampe masuk detik segala
#4 by Hanif Ilham on January 3, 2010 - 13:37
kalo pak tif (ini pak tif yang mana yah?) yang sekarang mentri komunikasi? wah, kalau beliau yang bicara, lain dengan saya, beliau bisa diliput, kalau saya kan bisa disimak disini. hehe, ini cuma analisis saya saat membaca buku2 jurnalis. yang heran saja sama
ehehe
#5 by Deka on January 8, 2010 - 16:46
Perasaan saya mah makin aneh saja jaman sekarang mah, apanya yang salah. ya…??
#6 by Hanif Ilham on January 8, 2010 - 18:28
hehe, apa yah? ntahlah…
#7 by Vian on January 13, 2010 - 03:45
kl bukan kita yg menghargai, lantas siapa lagi ???
#8 by Hanif Ilham on January 13, 2010 - 09:35
Type your comment here
yah, benar, siapa lagi? hehe… cuma kitalah yang bisa…
#9 by DuncanKARIN29 on February 28, 2010 - 18:05
Have no cash to buy a building? Worry no more, because this is achievable to take the business loans to work out all the problems. Thus take a student loan to buy everything you want.