Total komentar di blog ini 5944 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 44 komentar per artikel.

Pergeseran Bahasa, Pergeseran Budaya


Per­nah den­gar ALAY? atau LEBAY? atau SOK-ENLISH? atau apalah macam-macam pena­maan yang diberikan suatu komu­ni­tas ter­tentu kepada komu­ni­tas yang lain sehingga men­jadi epho­ria tanpa henti yang men­gak­i­batkan selu­ruh lapisan masyarakat meng­gu­nakan makna dan kata yang sama. Betul? Betul…

Nah, saya sedikit miris meli­hat perkem­ban­gan bangsa ter­cinta. Sebe­narnya mau berkem­bang maju kearah mana? kearah jati diri bangsa atau kearah yang dom­i­nan den­gan warna bangsa asing? barat? amerika? sok eng­lish? atau bagaimana? per­tanyaan ini saya lon­tarkan pada diri sendiri sem­bari melihat-lihat lingkun­gan sek­i­tar, mem­baca koran, meli­hat TV, bermain face­book dan ada beber­apa anal­isa yang saya lakukan yang men­da­p­atkan hasil seperti demikian.

Per­tama, ALAY. Fenom­ena kacau balau ini ter­jadi karena ekspre­sifnya kaum muda-mudi dalam mengem­bangkan bahasanya, namun kearah yang aneh menu­rut saya. Kok? Yah, lihat saja distatus-status face­book yang mana bahasa mereka cip­takan sendiri, dan yang mengerti mereka sendiri juga. Aneh? tentu… bahasa kita sudah dis­usun secara baik sejak masa per­juan­gan para pahlawan. Apakah hingga saat ini merasa kurang puas den­gan bahasa yang kita gunakan? hingga meng­gu­nakan bahasa yang tentu saja tidak berdasar terse­but? tentu men­galami pro dan kon­tra yang hebat. Caci maki, hinaan, perde­batan muncul ke per­mukaan. Anal­isa saya, mungkin mereka bertrans­for­masi dari gaya mereka menuliskan kata-kata dalam SMS (Short Mes­sage Ser­vice) yang mana bahasa saat itu memang perlu dis­ingkat. Tapi kalau sam­pai luber dan menye­bar ke media-media lain­nya, apa perlu?

Kedua adalah LEBAY. Agaknya saya kurang setuju den­gan pena­maan itu. Hehe, karena sendirinya saya juga terkadang “Lebay” ter­hadap suatu keadaan. Kata orang, “men­drama­tisir” keadaan semestinya. Saya tidak setuju? Jelas. Coba lihat para sen­i­man kita, yang mem­ba­cakan puisi, menulis sajak, cer­pen hingga novel, apakah mereka tidak men­drama­tisir keadaan untuk men­da­p­atkan sebuah momen­tum dalam pen­cip­taan karya mereka? Mereka sejatinya perlu menangkap sebuah situ­asi dalam kehidu­pan realita ini secara lebih hebat diband­ingkan manu­sia kebanyakan. Sehingga hasil karya mereka dapat mem­buat pem­ba­canya berde­cak kagum dan ter­pes­ona. Lucu sih, saat per­ayaan hari Ibu 22 Desem­ber 2009 kemaren, saya menulis sta­tus di face­book bahwa “saya rindu rumah dan ingin pulang,” kira-kira seperti itu. Namun apa yang ter­jadi, “Lebay”. Yah, itu tang­ga­pan dari beber­apa orang yang men­go­men­tari sta­tus saya. Aneh, mau saya ajak berde­bat, cuma sayang masih teman sendiri. Yah, kasi­han saja jika emosi mereka sudah lun­tur ter­hadap hedo­nisme barat yang mana perasaan sudah dike­samp­ingkan den­gan akal dan logika berlebihan.

Nah, yang terkahir adalah, SOK-ENGLISH? coba baca seperti cinta laura kata “SOK-ENGLISH”, nah bagaimana? mau tertawa? hahaha, aneh bukan? Coba pem­baca men­gun­jungi sebuah kan­tor instansi atau swasta, maka terkadang mereka mem­buat sebuah slo­gan dalam ben­tuk tulisan indonesia-inggris. “HAPPY HOLIDAYS, kun­jungi gerai kami dan dap­atkan SALE hingga 30% UNDER ORIGINAL PRICE.” Sebe­narnya yang mem­buat span­duk itu ingin menangkap kon­sumen Indone­sia, wisa­tawan asing, atau yang mana? Kok bahasa dicampur-campur? Pada­hal wisa­tawan asing yang berbe­lanja dis­itu tidak­lah lebih banyak dari warga sendiri. Atau merasa lebih keren den­gan bahasa asing? apa bahasa Indone­sia tidak keren? Wah, cobalah pem­baca meni­lai sendiri beber­apa kasus dimasyarakat.

Demikian beber­apa anal­isa saya yang telah saya jabarkan. Tentu, bahasa nasional kita yaitu bahasa Indone­sia akan punah jika terus-terusan seperti ini. Yah, den­gan art­ian bahwa war­ganya sendiri sudah eng­gan memakai bahasa Indone­sia yang baik dan benar. Perge­seran budaya yang telah lama meng­gerus bangsa ini, bukan tidak mungkin kita akan kehi­lan­gan sebuah kebang­gaan diri untuk meng­gu­nakan bahasa sendiri. Semoga saja, kita sadar bahwa meng­gu­nakan bahasa Indone­sia yang baik dan benar adalah salah satu wujud melestarikan kebu­dayaan sendiri untuk anak cucu kita nanti.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

  1. #1 by rizal on December 24, 2009 - 09:33

    iya mas…itu fenom­ena aneh.…tapi gimana juga saya sendiri juga ser­ing begitu.…

    yaah.…menurut saya itu ting­gal prib­adi masing2 orang…hehheheee.…. :thanks2

    • #2 by Hanif Ilham on December 24, 2009 - 14:39

      hehe, yah, fenom­ena seperti itu kan memang mungkin ter­jadi, siapa tahu bahasa kita bertrans­for­masi lagi ke bahasa yang lebih sulit dipa­hami, hehe

  2. #3 by ndop on December 24, 2009 - 10:42

    mungkin ter­gan­tung tem­pat situ­asi dan kon­disi mas… kalau emang sedang resmi, ya pakek bahasa Indone­sia.. kalau untuk span­duk span­duk iklan.. ya dibikin seme­narik mungkin..

    lagian memang bahasa Ing­gris khan bahasa dunia…

    *yang saya khawatirkan itu jus­tru punah­nya bahasa daerah! bukan bahasa Indonesia*

    • #4 by Hanif Ilham on December 24, 2009 - 14:40

      iya juga sih, tapi tidak semua orang Indone­sia paham bahasa Ing­gris, atau malah men­jadikan­nya ambigu? hehe

  3. #5 by fanari on December 24, 2009 - 13:29

    Mungkin saya juga bisa dikatakan ‘sok-english’ karena ser­ing meng­gu­nakan eng­lish dalam jejar­ing sosial, mis. update sta­tus atau tweet hehe den­gan mak­sud cuma pen­gen pin­ter dan ter­biasa den­gan eng­lish aja :mrgreen:

    • #6 by Hanif Ilham on December 24, 2009 - 14:41

      yah, itu­alh, akhirnya terkadang mau tidak mau kita mengikuti trend yang ada,

  4. #7 by sobatsehat on December 24, 2009 - 22:33

    salam kenal aja deh, man­tep opininya

  5. #8 by Sarimin on December 25, 2009 - 03:14

    hihi.… banyak isti­lah aneh…

  6. #9 by Hanif Ilham on December 25, 2009 - 07:24


    sobat­se­hat:

    salam kenal aja deh, man­tep opininya

    iyah, trima kasih…


    Sarimin:

    hihi…. banyak isti­lah aneh…

    hehe, seperti itu­lah, muda-mudi kita kre­atif bukan main, yah, Indone­sia lah yang punya.

  7. #10 by Zian X-Fly on December 25, 2009 - 08:15

    Yah, mau gimana lagi…

  8. #11 by Onnay Okheng on December 25, 2009 - 08:31

    Bahasa alay mo di klaim oleh sapa lagi ya??!! hehehe.. :bin­gung: :hoax

  9. #12 by Anas on December 25, 2009 - 09:42

    Fenom­ena yang aneh.… :alay

  10. #13 by bo13ok on December 25, 2009 - 15:01


    Sarimin:

    hihi…. banyak isti­lah aneh…

    ada sarimin disini… salam kenal mas admin
    bahasa seperti itu adalah bahasa gaul di kalan­gan mereka, jadi kalo g pake bhasa seperti itu tidak diang­gap gaul :D

  11. #14 by Hanif Ilham on December 25, 2009 - 15:39


    Zian X-Fly:

    Yah, mau gimana lagi…

    hehe, ya gimana yah? bin­gung juga nih,


    Onnay Okheng:

    Bahasa alay mo di klaim oleh sapa lagi ya??!! hehehe.. :bingung: :hoax

    siapa yah? hayo siapa yang mau ngaku…? hehe„


    Anas:

    Fenom­ena yang aneh…. :alay

    hehe, baru-baru kali ini saja kan fenom­ena itu ada. sebelum­nya gak per­nah ada.


    bo13ok:


    Sarimin:

    hihi…. banyak isti­lah aneh…

    ada sarimin disini… salam kenal mas admin
    bahasa seperti itu adalah bahasa gaul di kalan­gan mereka, jadi kalo g pake bhasa seperti itu tidak diang­gap gaul :D

    iyah, sarimin juga sem­pet mam­pir kok disini, salam kenal juga, yups seperti itu­lah per­gaulan jaman sekarang yang dina­makan “gaul” hehe

  12. #15 by nadia on December 25, 2009 - 17:28

    iya juga sih, kok belakan­gan ini kita udh jarang banget nge­gu­nain bahsa indone­sia yang bener-bener bahasa indone­sia yang “rapih” tanpa adanya slang atau bahasa gaul lain­nya. Gue juga gitu sih, rasanya jika harus meng­gu­nakan bahasa indone­sia EYD, kok jadi kaku banget ya. Susah juga ten­ry­ata :D

  13. #16 by Andhika on December 25, 2009 - 20:06

    man­tap gan anal­isanya…
    sun­dul ah…
    :sup2:

  14. #17 by shalimow on December 25, 2009 - 22:41

    memang kon­sekuensi dari begitu mudah­nya kata ser­a­pan yang berlaku pada bahasa Indone­sia.…..
    tentu ada + dan juga -
    tx ya bos

  15. #18 by Alfaro Lamablawa on December 26, 2009 - 03:11

    hemmm
    entah ada perge­seran budaya atau tidak, dari kisah anda diatas, menu­rut saya, yang ter­jadi adalah salah pemaka­ian. tidak pada tem­pat­nya. bukan perge­seran budaya dalam skala kecil atau besar bukan?

1 2 3
(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree