Total komentar di blog ini 5972 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 45 komentar per artikel.

Pergeseran Bahasa, Pergeseran Budaya


Per­nah den­gar ALAY? atau LEBAY? atau SOK-ENLISH? atau apalah macam-macam pena­maan yang diberikan suatu komu­ni­tas ter­tentu kepada komu­ni­tas yang lain sehingga men­jadi epho­ria tanpa henti yang men­gak­i­batkan selu­ruh lapisan masyarakat meng­gu­nakan makna dan kata yang sama. Betul? Betul…

Nah, saya sedikit miris meli­hat perkem­ban­gan bangsa ter­cinta. Sebe­narnya mau berkem­bang maju kearah mana? kearah jati diri bangsa atau kearah yang dom­i­nan den­gan warna bangsa asing? barat? amerika? sok eng­lish? atau bagaimana? per­tanyaan ini saya lon­tarkan pada diri sendiri sem­bari melihat-lihat lingkun­gan sek­i­tar, mem­baca koran, meli­hat TV, bermain face­book dan ada beber­apa anal­isa yang saya lakukan yang men­da­p­atkan hasil seperti demikian.

Per­tama, ALAY. Fenom­ena kacau balau ini ter­jadi karena ekspre­sifnya kaum muda-mudi dalam mengem­bangkan bahasanya, namun kearah yang aneh menu­rut saya. Kok? Yah, lihat saja distatus-status face­book yang mana bahasa mereka cip­takan sendiri, dan yang mengerti mereka sendiri juga. Aneh? tentu… bahasa kita sudah dis­usun secara baik sejak masa per­juan­gan para pahlawan. Apakah hingga saat ini merasa kurang puas den­gan bahasa yang kita gunakan? hingga meng­gu­nakan bahasa yang tentu saja tidak berdasar terse­but? tentu men­galami pro dan kon­tra yang hebat. Caci maki, hinaan, perde­batan muncul ke per­mukaan. Anal­isa saya, mungkin mereka bertrans­for­masi dari gaya mereka menuliskan kata-kata dalam SMS (Short Mes­sage Ser­vice) yang mana bahasa saat itu memang perlu dis­ingkat. Tapi kalau sam­pai luber dan menye­bar ke media-media lain­nya, apa perlu?

Kedua adalah LEBAY. Agaknya saya kurang setuju den­gan pena­maan itu. Hehe, karena sendirinya saya juga terkadang “Lebay” ter­hadap suatu keadaan. Kata orang, “men­drama­tisir” keadaan semestinya. Saya tidak setuju? Jelas. Coba lihat para sen­i­man kita, yang mem­ba­cakan puisi, menulis sajak, cer­pen hingga novel, apakah mereka tidak men­drama­tisir keadaan untuk men­da­p­atkan sebuah momen­tum dalam pen­cip­taan karya mereka? Mereka sejatinya perlu menangkap sebuah situ­asi dalam kehidu­pan realita ini secara lebih hebat diband­ingkan manu­sia kebanyakan. Sehingga hasil karya mereka dapat mem­buat pem­ba­canya berde­cak kagum dan ter­pes­ona. Lucu sih, saat per­ayaan hari Ibu 22 Desem­ber 2009 kemaren, saya menulis sta­tus di face­book bahwa “saya rindu rumah dan ingin pulang,” kira-kira seperti itu. Namun apa yang ter­jadi, “Lebay”. Yah, itu tang­ga­pan dari beber­apa orang yang men­go­men­tari sta­tus saya. Aneh, mau saya ajak berde­bat, cuma sayang masih teman sendiri. Yah, kasi­han saja jika emosi mereka sudah lun­tur ter­hadap hedo­nisme barat yang mana perasaan sudah dike­samp­ingkan den­gan akal dan logika berlebihan.

Nah, yang terkahir adalah, SOK-ENGLISH? coba baca seperti cinta laura kata “SOK-ENGLISH”, nah bagaimana? mau tertawa? hahaha, aneh bukan? Coba pem­baca men­gun­jungi sebuah kan­tor instansi atau swasta, maka terkadang mereka mem­buat sebuah slo­gan dalam ben­tuk tulisan indonesia-inggris. “HAPPY HOLIDAYS, kun­jungi gerai kami dan dap­atkan SALE hingga 30% UNDER ORIGINAL PRICE.” Sebe­narnya yang mem­buat span­duk itu ingin menangkap kon­sumen Indone­sia, wisa­tawan asing, atau yang mana? Kok bahasa dicampur-campur? Pada­hal wisa­tawan asing yang berbe­lanja dis­itu tidak­lah lebih banyak dari warga sendiri. Atau merasa lebih keren den­gan bahasa asing? apa bahasa Indone­sia tidak keren? Wah, cobalah pem­baca meni­lai sendiri beber­apa kasus dimasyarakat.

Demikian beber­apa anal­isa saya yang telah saya jabarkan. Tentu, bahasa nasional kita yaitu bahasa Indone­sia akan punah jika terus-terusan seperti ini. Yah, den­gan art­ian bahwa war­ganya sendiri sudah eng­gan memakai bahasa Indone­sia yang baik dan benar. Perge­seran budaya yang telah lama meng­gerus bangsa ini, bukan tidak mungkin kita akan kehi­lan­gan sebuah kebang­gaan diri untuk meng­gu­nakan bahasa sendiri. Semoga saja, kita sadar bahwa meng­gu­nakan bahasa Indone­sia yang baik dan benar adalah salah satu wujud melestarikan kebu­dayaan sendiri untuk anak cucu kita nanti.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

  1. #1 by Hanif Ilham on December 26, 2009 - 07:24


    nadia:

    iya juga sih, kok belakan­gan ini kita udh jarang banget nge­gu­nain bahsa indone­sia yang bener-bener bahasa indone­sia yang “rapih” tanpa adanya slang atau bahasa gaul lain­nya. Gue juga gitu sih, rasanya jika harus meng­gu­nakan bahasa indone­sia EYD, kok jadi kaku banget ya. Susah juga tenryata :D

    bukan susah, dicari frase yang tepat aja, yah, gak semua lang­sung bisa memakai bahasa indone­sia yang baik dan benar, ser­ing baca buku-buku sejarah, sas­tra lama, mungkin bisa membantu.


    And­hika:

    man­tap gan anal­isanya…
    sun­dul ah…
    :sup2:

    hehe, bakal dis­un­dul balik gan, hehe :sup2:


    shal­imow:

    memang kon­sekuensi dari begitu mudah­nya kata ser­a­pan yang berlaku pada bahasa Indone­sia……
    tentu ada + dan juga -
    tx ya bos

    yups, semoga saja orang tuanya tidak ikut2 juga pakai bahasa gaul, ntar repot deh. hehe…


    Alfaro Lam­ablawa:

    hemmm
    entah ada perge­seran budaya atau tidak, dari kisah anda diatas, menu­rut saya, yang ter­jadi adalah salah pemaka­ian. tidak pada tem­pat­nya. bukan perge­seran budaya dalam skala kecil atau besar bukan?

    yups, alfaro, pen­da­pat anda tetap saya ter­ima, walaupun saya tetap menang­gap­nya perge­seran budaya. hehe…

  2. #2 by Ardiawan on December 26, 2009 - 07:41

    den­gan mulai masuknya glob­al­isasi di negeri ini, pendirian rakyat indone­sia men­jadi goyah.

  3. #3 by Hanif Ilham on December 26, 2009 - 08:18


    Ardiawan:

    den­gan mulai masuknya glob­al­isasi di negeri ini, pendirian rakyat indone­sia men­jadi goyah.

    semoga tidak benar2 hilang jati diri bangsa. :bingung

  4. #4 by kips on December 26, 2009 - 12:57

    Ten­tang bahasa prokem, bahasa gaul atau bahasa apalah itu namanya, mohon maaf saya tidak begitu ter­tarik sehingga kurang mema­haminya :-D

    Ter­ima kasih telah men­gu­pas­nya disini.

  5. #5 by edratna on December 26, 2009 - 14:56

    Dis­adari sejak dulu, bahwa bahasa gaul memang berkem­bang, sehingga jika tak punya anak remaja, atau tak mengikuti kita juga tak tahu.

    Masalah­nya, apakah bahasa gaul ini nan­ti­nya akan men­jadi bahasa baku?

  6. #6 by Hanif Ilham on December 26, 2009 - 17:39


    kips:

    Ten­tang bahasa prokem, bahasa gaul atau bahasa apalah itu namanya, mohon maaf saya tidak begitu ter­tarik sehingga kurang mema­haminya :-D

    Ter­ima kasih telah men­gu­pas­nya disini.

    hehe, mungkin saya emang cen­derung ke pro­fesi sas­tra dan bahasa, hehe, karena kita beda, emang kalo tidak paham, tidak apa2 mas, yang pent­ing sudah baca dan komen­tar, hehe.


    edratna:

    Dis­adari sejak dulu, bahwa bahasa gaul memang berkem­bang, sehingga jika tak punya anak remaja, atau tak mengikuti kita juga tak tahu.

    Masalah­nya, apakah bahasa gaul ini nan­ti­nya akan men­jadi bahasa baku?

    nah, akhirnya Ibu ratna sudah men­e­mukan yang saya mak­sud, karena jika mena­jdi bahasa baku, akan sulit sekali diikuti, karena banyak sekali macam dari bahasa gaul… sela­mat, maaf saya belum bikin reward untuk ini… :recsel

  7. #7 by nurrahman on December 26, 2009 - 20:26

  8. #8 by Dangstars on December 26, 2009 - 21:53

    Gimana trndinya begitu,jadi yah diikuti saja :newyear

  9. #9 by Dangstars on December 26, 2009 - 21:54

    :shakehand2 Kun­jun­gan per­tama moga berkenan

  10. #10 by SaipulHamdi(dot)com on December 27, 2009 - 00:13

    Dunia tam­bah tua.….….

  11. #11 by Khery Sudeska on December 27, 2009 - 03:23

    Betul, Mas. Saya setuju ini perlu men­da­pat per­ha­t­ian kita semua. Kalu tak kita koreksi, semakin menjadi-jadi, malah banyak yang ikut2an latah… :ngacir:

  12. #12 by Hanif Ilham on December 27, 2009 - 04:53


    nur­rah­man:

    thanks atas shar­ing linknya…


    Dan­gstars:

    Gimana trndinya begitu,jadi yah diikuti saja :newyear

    iya, kun­jun­gan per­tama ya? makasih sudah mampir


    SaipulHamdi(dot)com:

    Dunia tam­bah tua………

    hehe, jadi bisa mati juga dong dunia ini, :takut


    Khery Sudeska:

    Betul, Mas. Saya setuju ini perlu men­da­pat per­ha­t­ian kita semua. Kalu tak kita koreksi, semakin menjadi-jadi, malah banyak yang ikut2an latah… :ngacir:

    iya bener, soal­nya bahasa gaul itu seenaknya sendiri, tidak ada peny­atunya antara bahasa gaul yang satu den­gan yang lain, jadinya bikin bin­gung… :bingung:

  13. #13 by M. Niam on December 29, 2009 - 16:53

    Saya juga miris Mas, kita ini semakin lama semakin ter­ja­jah saja. Bukan secara kasat mata dan fisik, tetapi dalam pola pikir, budaya juga nilai. Salah sat­unya bahasa, pencm­pu­ran bahasa Indo dgn ing­gris juga malah men­ga­caukan mnrt saya. Jk emang mau ing­gris ya ing­gris semua, ttp sebisa mungkin pake B. Indone­sia. Di malaysia-maaf– ada ger­akan pemurn­ian bahasa melayu mereka dari ing­gris, krn di sana warga sudah ter­biasa mencampur2 bhs melayu dgn ing­gris. Knp tidak kita ikuti?bknkah itu baik. Apa gunanya setiap tahun mem­peringati sumpah pemuda yg salah sat­unya men­jun­jung tinggi bahasa Indone­sia tp dalam kese­har­ian kita berbangga-bangga klo sudah bisa berbicara dengansedikit2 men­cam­pur dgn ing­gris.
    Salam kenal dan hangat, ter­ima kasih kun­jun­gan­nya ke wongjalur.com :kiss

  14. #14 by Hanif Ilham on December 29, 2009 - 16:59


    M. Niam:

    Saya juga miris Mas, kita ini semakin lama semakin ter­ja­jah saja. Bukan secara kasat mata dan fisik, tetapi dalam pola pikir, budaya juga nilai. Salah sat­unya bahasa, pencm­pu­ran bahasa Indo dgn ing­gris juga malah men­ga­caukan mnrt saya. Jk emang mau ing­gris ya ing­gris semua, ttp sebisa mungkin pake B. Indone­sia. Di malaysia-maaf– ada ger­akan pemurn­ian bahasa melayu mereka dari ing­gris, krn di sana warga sudah ter­biasa mencampur2 bhs melayu dgn ing­gris. Knp tidak kita ikuti?bknkah itu baik. Apa gunanya setiap tahun mem­peringati sumpah pemuda yg salah sat­unya men­jun­jung tinggi bahasa Indone­sia tp dalam kese­har­ian kita berbangga-bangga klo sudah bisa berbicara dengansedikit2 men­cam­pur dgn ing­gris.
    Salam kenal dan hangat, ter­ima kasih kun­jun­gan­nya ke wongjalur.com :kiss

    wah, anal­i­sis men­dalam, sam­pai ke negri jiran.
    tentu, anda akan merasa san­gat berse­man­gat jika hidup ditahun 70an, dimana chairil anwar mem­ba­cakan puisi Indone­sia den­gan gagah, atau bahkan sapardi djoko damono den­gan karya cer­pen­nya yang wah, jika diband­ingkan den­gan karya sekarang, miris… trims udah mam­pir… :shakehand2

  15. #15 by Aulia on January 2, 2010 - 19:29

    pan­te­san pak tif juga ikut ngomong masalah alay ini sampe masuk detik segala :D

(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree