Saat membaca sebuah buku berjudul, “111 Kolom Bahasa Kompas” maka ada hal yang menarik yang bisa anda dapat disana. Bukan sebuah ilmu praktis, atau sebuah metode mencapai kesuksesan dengan jalan pintas. Hanya sebuah buku, yang mengisahkan “kata” yang kita gunakan sehari-hari banyak mengalami pergeseran bunyi, kegunaan, hingga maknanya. Mengapa saya membahas ini? Bukankah bahasa kita gunakan sehari-hari dalam kehidupan ini, sehingga tidak usahlah lagi di bahas-bahas?
Sebuah kata akan saya permainkan disini, bukannya mepermainkan kata, atau malah main-main dengan kata-kata. Bingung? Sama. Saya juga bingung. Apa sih? Yah, nikmati saja. Toh, saya cuma berkata-kata. Sebuah bangsa, akan kuat jika memiliki sejarah. Dimana tentu sejarah tersebut juga memiliki kisah-kisah yang sangat heroik, bukan herois, bukan pula fantastis. Ini bukan di negeri dongeng, walau kita punya puluhan ribu pulau. Jadi, sejarah juga tercipta melalui “kata-kata” yang terangkai dalam tetesan tinta pada kertas, atau pada celotehan rumpi ibu-ibu gossip, semua tetap menjadi sejarah. Bahkan jika sudah mampir dan diburu oleh para wartawan, jangan heran jika sebuah “kata” saja dapat menciptakan kehebohan bahkan hingga keseluruh dunia.
Inilah hidup. Era globalisasi, maaf, era global. Dimana sebuah negara akan mendapatkan transfer budaya dari bangsa asing yang begitu lekat dan pekat. Terkadang cukup lucu jika sampai sebuah bangsa melupakan bahasanya sendiri. Indonesia juga begitu. Begitu kental dengan adopsi-adopsi kata dari bangsa amerika, arab, eropa, dan lain sebagainya. Terkadang lagi, kita tidak sadar telah menggunakannya walau terkadang lagi, terlalu banyak saya memakai terkadang rupanya, maaf, karena itulah kita semakin jauh dari identitas diri. Apa sebenarnya maksudnya? Dwibahasa lebih tepatnya. Kita memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa yang baik, namun banyak salahnya. Tercampur dari bahasa asing yang kita selewengkan bunyinya seenak kuping agar dapat didengar dengan nyaman. Walaupun, untuk jaman ini masih tidak banyak berpengaruh. Yah, semoga saja bahasa asing itu tidak menggeser bahasa bumi pertiwi kita.
Apalagi jika kita sendiri salah dalam menggunakan bahasa dan kata yang dapat membingungkan pendengarnya. Dulu sih begitu, namun jika kesalahan terus ditolerir, maka lambat laun akan terdengar biasa, seperti biasa korupsi. Karena terbiasa ditoleransi kejahatannya. Yah, itu juga terserah pembaca. Bacalah buku yang saya baca seperti saya ungkapkan dalam paragraf awal. Anda akan kaget dengan uniknya perubahan bahasa dan kata dalam kehidupan kita.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Karpet Terbuat dari 70.000 Bunga? - March 9th, 2010
- Plugins Menarik yang Ku Temui - March 6th, 2010
- Jangan biarkan SEO membunuh Blogmu! - March 3rd, 2010
- Menginstal Wordpress Di Komputermu - February 28th, 2010
- Permintaan Tukeran Link - February 25th, 2010





Komentar Barusan