Total komentar di blog ini 5667 komentar di blog, dengan rata-rata komentar 42 komentar per artikel.

Sebuah Kata


Saat mem­baca sebuah buku berjudul, “111 Kolom Bahasa Kom­pas” maka ada hal yang menarik yang bisa anda dapat dis­ana. Bukan sebuah ilmu prak­tis, atau sebuah metode men­ca­pai kesuk­sesan den­gan jalan pin­tas. Hanya sebuah buku, yang mengisahkan “kata” yang kita gunakan sehari-hari banyak men­galami perge­seran bunyi, kegu­naan, hingga mak­nanya. Men­gapa saya mem­ba­has ini? Bukankah bahasa kita gunakan sehari-hari dalam kehidu­pan ini, sehingga tidak usahlah lagi di bahas-bahas?

Sebuah kata akan saya per­mainkan disini, bukan­nya meper­mainkan kata, atau malah main-main den­gan kata-kata. Bin­gung? Sama. Saya juga bin­gung. Apa sih? Yah, nikmati saja. Toh, saya cuma berkata-kata. Sebuah bangsa, akan kuat jika memi­liki sejarah. Dimana tentu sejarah terse­but juga memi­liki kisah-kisah yang san­gat heroik, bukan herois, bukan pula fan­tastis. Ini bukan di negeri don­geng, walau kita punya puluhan ribu pulau. Jadi, sejarah juga ter­cipta melalui “kata-kata” yang terangkai dalam tete­san tinta pada ker­tas, atau pada celote­han rumpi ibu-ibu gos­sip, semua tetap men­jadi sejarah. Bahkan jika sudah mam­pir dan diburu oleh para wartawan, jan­gan heran jika sebuah “kata” saja dapat men­cip­takan kehe­bo­han bahkan hingga keselu­ruh dunia.

Ini­lah hidup. Era glob­al­isasi, maaf, era global. Dimana sebuah negara akan men­da­p­atkan trans­fer budaya dari bangsa asing yang begitu lekat dan pekat. Terkadang cukup lucu jika sam­pai sebuah bangsa melu­pakan bahasanya sendiri. Indone­sia juga begitu. Begitu ken­tal den­gan adopsi-adopsi kata dari bangsa amerika, arab, eropa, dan lain seba­gainya. Terkadang lagi, kita tidak sadar telah meng­gu­nakan­nya walau terkadang lagi, ter­lalu banyak saya memakai terkadang rupa­nya, maaf, karena itu­lah kita semakin jauh dari iden­ti­tas diri. Apa sebe­narnya mak­sud­nya? Dwiba­hasa lebih tepat­nya. Kita memakai bahasa Indone­sia seba­gai bahasa yang baik, namun banyak salah­nya. Ter­cam­pur dari bahasa asing yang kita selewengkan bun­yinya seenak kup­ing agar dapat diden­gar den­gan nya­man. Walaupun, untuk jaman ini masih tidak banyak berpen­garuh. Yah, semoga saja bahasa asing itu tidak menggeser bahasa bumi per­tiwi kita.

Apalagi jika kita sendiri salah dalam meng­gu­nakan bahasa dan kata yang dapat mem­bin­gungkan pen­den­gar­nya. Dulu sih begitu, namun jika kesala­han terus dito­lerir, maka lam­bat laun akan ter­den­gar biasa, seperti biasa korupsi. Karena ter­biasa ditol­er­ansi keja­hatan­nya. Yah, itu juga terserah pem­baca. Bacalah buku yang saya baca seperti saya ungkap­kan dalam para­graf awal. Anda akan kaget den­gan uniknya peruba­han bahasa dan kata dalam kehidu­pan kita.

5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham

,

  1. #1 by hypotheek on August 13, 2010 - 16:59

    Bereken zelf uw hypotheek. Hypotheek bereke­nen? Maak snel een indi­catieve bereken­ing van het max­i­male leenbedrag van uw hypotheek.

(will not be published)

Spam Protection by WP-SpamFree