Lama sudah tak bersua, hampir satu tahun lamanya. Seja perpisahan SMA dulu, aku melihatnya sebagai teman baik, bukan sahabat, bukan pula sebagai musuh. Aku memanggilnya Pipit. Kami berpisah layaknya perpisahan dengan teman-teman lainnya. Kami satu kampung. Bahkan tetangga tak jauh. Namun, apa daya ketika sebuah kesibukan mempersulit sebuah silaturahmi. Walau akhirnya kami satu kota. Sebagai perantauan. Yang mencoba sukses dengan menimba ilmu di pulau seberang. Baru tadi sore ku temui dia, sebenarnya tak sengaja bertemu. Bahkan bisa dibilang , bertemu yang tak enak.
Bukan hal yang benar-benar negatif. Hari ini, aku memiliki jadwal untuk kontrol gigi di sebuah rumah sakit gigi di sebuah universitas di kota tempatku menimba ilmu. Siang itu, aku berencana dulu untuk makan siang, namun karena waktu yang telah mepet, jadi mau tak mau aku bergegas saja menemui koass yang merawatku. Di rumah sakit itu, aku mengenal baik dirinya, sebuah mahasiswi yang juga belajar disana. Menempuh pendidikan dokter gigi. Namun, tetap saja hampir setahun ini aku tak pernah bertemu. Padahal, aku juga sering berada di lingkungan tersebut, karena kita satu almameter. Sayang, semua terjadi begitu saja.
Setelah kontrol selama kurang lebih satu jam, aku turun dengan segera menuju lantai bwah rumah sakit gigi itu. Tak kusadari aku bertemu dengan seorang teman yang beberapa waktu lalu mengantarkanku ke rumah sakit gigi ini. Sebenarnya rasa enggan menghampiriku. Karena jujur saja perutku sudah mulai tak bisa kompromi. Karena hampir 3 jam aku telat makan siang. Mau tak mau, ku temui saja. Dirinya bersama 2 orang seniorku, aku kenal wajah mereka, namun samar-samar ku ingat. Yah, aku begitu tak perduli saat itu.
Setelah berbincang sebentar, aku dan mbu, teman yang tak sengaja bertemu yang dulu pernah mengantarkanku ke rumah sakit ini, beranjak pergi untuk menuju tempat parkiran. Dan ternyata, hal tak terduga yang ingin ku ceritakan pun terjadi. Pipit, seorang teman sejak SD-ku itu tetap tak berubah. Dengan tingkahnya yang ceria, selalu saja penuh tanya, apakah dirinya tak pernah bersedih. Bahkan dengan pertemuan tak terduga itu aku tak merasakan hal yang asing dalam dirinya, tetap yang dulu, “Nif, lupa yah sama aku, aih… lama kita tak bertemu, padahal satu kota, satu universitas” “Hahaha, dasar, aneh-aneh saja kamu, kan aku gak kemana-mana pit… kamu tuh yang gak pernah keliatan.” Akhirnya kami pun mengobrol sejenak, yah tak mengenakkan, karena kami mengobrol di parkiran rumah sakit dengan panas terik matahari dan cukup singkat, karena dia memiliki janji dengan tema kampusnya untuk pergi makan. Yah, paling tidak, aku tetap mengenalnya, seperti dulu, teman lama, tak berubah.
5 Artikel Tebaru Dariku Hanif Ilham
- Karpet Terbuat dari 70.000 Bunga? - March 9th, 2010
- Plugins Menarik yang Ku Temui - March 6th, 2010
- Jangan biarkan SEO membunuh Blogmu! - March 3rd, 2010
- Menginstal Wordpress Di Komputermu - February 28th, 2010
- Permintaan Tukeran Link - February 25th, 2010





Komentar Barusan